Minggu, 22 September 2013

INDONESIAN WEALTH MANAGEMENT INDUSTRY 2013

Indonesia stands out as being the most confident and ambitious market in Asia.
Indonesia has been enjoying an unprecedented economic boom not seen since its independence in 1945, the new wealth creation has spread from Jakarta to many other provinces covering the whole archipelago.
The global private banking industry was estimated to have AuM of just over US$16.5 trillion in 2011. The Indonesian wealth management sector accounts for approximately US$16.6 billion of this, which equates to 0.1% of the global total.
There are 626 UHNWIs in Indonesia. Jakarta is home to the largest portion of them (55% or 345 of UHNWIs). There are also sizable Indonesian UHNWI populations in Bali (35 UHNWIs), Surabaya (23 UHNWIs), Bandung (20 UHNWIs) and Medan (18 UHNWIs).

Indonesia Wealth Management market has been increasing by leaps and bounds. According to a recent report published on Asia’s wealth market, Indonesia will experience the fastest HNWI (high net worth individuals) growth rate among Asian countries of 25 per cent between 2010 and 2015.
The report, co-published by Swiss private banking group, Julius Baer and CLSA, states that by 2015, the number of HNWIs in Indonesia will increase to 99,000, with a stock wealth of $487bn. The report estimates that HNWI wealth will grow at approximately 21 per cent without currency gains or around 30 per cent per annum, taking into account rupiah appreciation.

Earlier, the wealth management market was dominated by foreign banks. But as the market developed, local banks started taking the lead. Right now, foreign banks’ advantage is being rapidly eroded. Local banks have stepped up their game and with their vast distribution network, are in a position to capture the market.

Now, Local and foreign banks are equally positioned. Local banks have indeed positioned themselves very strongly and created a very viable wealth management proposition.

Since in an effort to protect the banking sector and their customers from external maladies in light of the recent financial crisis, the regulator no longer allows banks to provide offshore solutions. Banks cannot offer offshore mutual funds to the customers.
Banks also cannot structure products linked to equities, only currency.

The enhanced regulatory oversight by the central bank (Bank Indonesia) has had a positive impact. Since the enhancements were introduced in 2011 (SE BI No. 13/29/DPNP Dated 9 December 2011), the regulatory environment for the wealth management market in Indonesia is now more robust when it comes to the management of clients’ investments and their risk profiles.
This has raised the bar for the wealth management industry to further lift service standards, improve risk management and put clients’ interests first.

Therefore, to succeed in this important client segment, local banks need to focus more on their service and quality of their advisory processes, rather on the products they sell.
  

The Parts for Success

WEALTH MANAGEMENT, PRIVATE BANKING AND FINANCIAL PLANNING

Layanan Private Banking atau yang belakangan ini semakin marak disebut dengan Wealth Management Service, sebenarnya adalah istilah yang digunakan bagi sebuah institusi perbankan besar yang menawarkan jasa keuangan kepada segmen nasabah individual tertentu.
Institusi perbankan ini biasanya memiliki dua divisi yang berbeda, yaitu Divisi Private Banking/Wealth Management dan Divisi Corporate Banking.
Secara historis Private Banking dipandang sangat eksklusif, hanya melayani individu-individu dengan kekayaan diatas USD. 1 juta, walaupun untuk saat ini dimungkinkan untuk membuka rekening Wealth Management hanya dengan saldo USD. 50,000.
Divisi Private Banking/Wealth Management dari suatu institusi menyediakan berbagai jenis jasa seperti jasa pengelolaan kekayaan, tabungan, jasa konsultasi pajak dan pengelolaan warisan bagi nasabahnya.

Skala
Menurut Scorpio Partnership's Annual Private Banking Benchmark for 2006, Divisi Private Banking terbesar dimiliki oleh UBS AG, diikuti oleh Citigroup dan Merril Lynch yang masing-masing memiliki asset kelolaan (Asset Under Management/AUM) lebih dari $ 1 miliar.
Bisnis Layanan Private Banking memperlihatkan pertumbuhan yang pesat pada profit dan asset kelolaan selama tahun 2006 setelah sebelumnya sejak tahun 2000 hingga 2003 mengalami pertumbuhan yang lambat karena penurunan pasar modal dan melambatnya pertumbuhan ekonomi global.
Masih menurut kajian Scorpio Partnership, laba sebelum pajak dari 71 penyedia jasa Private Banking yang disurvey tumbuh 25% sepanjang tahun 2005, sedangkan aset kelolaannya naik 18% atau sekitar $8.5 miliar.
Sedangkan menurut Goldman Sachs, aliran modal yang akan masuk ke Private Banking meningkat sekitar 7% pertahun hingga tahun 2007.
Kajian lain yang dilakukan oleh IFSL menunjukkan bahwa setelah mengalami penurunan selama beberapa tahun, aktivitas Private Banking meningkat 3,8% di tahun 2004.
Banyak Private Banking besar beroperasi di Negara Swiss. Diperkirakan 35% dana offshore dari individu maupun institusi ditempatkan pada bank-bank di Swiss atau sekitar 3 miliar franc Swis.
Namun belakangan ini, hampir lebih dari 52% penyedia jasa Private Banking yang ada diseluruh dunia juga membuka kantor operasionalnya di negara Singapura.

1. Apa yang dimaksud dengan Wealth Management?
Banyak definisi Wealth Management, namun secara fundamental, akademisi dan institusi keuangan menggambarkan Wealth Management sebagai berikut :
A. Perencanaan investasi jangka panjang berdasarkan kriteria dan tujuan keuangan masing-masing individu.
B. Pengembangan aset dan pengelolaan hutang secara efektif.
C. Melindungi kekayaan melalui perencanaan pajak, trust dan manajemen risiko.
D. Pengalokasian kekayaan berdasarkan perencanaan pajak.

2. Bank dan Wealth Management
Banyak bank telah memiliki divisi Wealth Management, walaupun tidak menawarkan seluruh jasa Wealth Management. Umumnya, Perbankan membagi jasa yang ditawarkan kedalam 3 area, yaitu Retail, Priority Banking (Privilege Banking) dan Private Banking.
Jasa dan Produk yang ditawarkan oleh Retail dan Priority Banking masih terbatas, sedangkan Private Banking menawarkan jasa Wealth Management yang lengkap.
a.        Retail dan Priority Banking
Retail Banking ditujukan bagi nasabah kategori mass (dengan kekayaan kurang dari USD. 50,000), sedangkan Priority Banking ditujukan bagi nasabah mass affluent (dengan kekayaan diatas USD. 50,000 hingga USD. 150,000 atau lebih). Perbedaan Priority Banking dan Retail Banking terletak pada tingkat kualitas layanan yang ditawarkan oleh Personal Banking Officer.
Satu dekade terakhir ini Divisi Retail Banking dan Priority Banking mulai menawarkan jasa Wealth Management di Asia. Sehingga yang sebelumnya hanya menawarkan produk investasi dan asuransi, mulai memperkenalkan jasa perencanaan keuangan kepada nasabahnya. Namun demikian Wealth Management itu sendiri sebenarnya lebih dari sekedar produk dan jasa ini, karena mencakup produk dan jasa yang lebih kompleks seperti jasa konsultasi pajak dan trust. Beberapa alasan mengapa produk dan jasa yang kompleks ini tidak ditawarkan kepada kategori mass dan mass affluent :
o Banyak dari produk ini mensyaratkan jumlah investasi minimum yang sangat besar
o Banyak dari produk ini berisiko tinggi, sedangkan kategori nasabah mass dan mass affluent tidak memiliki cukup dana untuk diinvestasikan kedalam berbagai jenis produk guna meminimalkan risiko (diversifikasi)
o Nasabah mass dan mass affluent tidak memiliki jumlah kekayaan yang memadai untuk memperoleh manfaat dari jasa perencaan pajak dan trust
b.        Private Banking
Private Banking ditujukan bagi nasabah yang kekayaannya sangat besar (biasanya dengan kekayaan bersih $ 1 juta keatas) dan Private Bankers menawarkan jasa yang bersifat sangat pribadi, bahkan hingga jasa pesuruh dan supir. Jasa dan produk yang ditawarkan juga jauh lebih luas. Institusi-institusi tersebut memiliki hubungan kerjasama dengan kantor pengacara, konsultan pajak, agen real estate, securities broker dan fund manager untuk melayani para nasabahnya.

3. Perencanaan Keuangan
Baik Retail Banking, Priority Banking, Private Banking saat ini menawarkan jasa Perencanaan Keuangan kepada nasabahnya. Karena sangat penting untuk mengelola kekayaan nasabah secara efektif sesuai dengan kebutuhannya. Sesudah mempertimbangkan kriteria dan tujuan keuangan dari masing-masing nasabah maka konsultan keuangan akan dapat menetapkan investasi jangka panjang bagi mereka. Misalnya, produk investasi seperti unit trust dipakai untuk mengembangkan aset nasabah, sedangkan produk asuransi dipakai untuk melindungi kekayaan nasabah. Bagi nasabah Private Banking, perencanaan pajak dapat mengupayakan efesiensi kewajiban pajak mereka secara signifikan, dan jasa trust dapat memastikan bahwa kekayaan mereka akan tetap dikelola dengan baik.

4. Manajemen Portfolio
Jasa-jasa keuangan bagi para nasabah tidak berakhir setelah proposal perencanaan keuangan (financial plan) dibuat dan dana diinvestasikan. Perencanaan keuangan merupakan aktivitas yang panjang dan berkelanjutan.
Relationship Managers bersama Investment Manager perlu memastikankan bahwa portofolio nasabahnya sudah sesuai dengan tujuan dan plan, hal ini disebut sebagai Portofolio Management.
Sebagai panduan, disarankan agar dilakukan review atas portfolio nasabah setiap 6 bulan sekali. Bukan berarti hal ini menutup kemungkinan untuk melakukan review lebih sering lagi, tergantung kondisi pasar dan ekonomi. Portfolio Management saat ini telah menjadi tren dan tersedia bagi semua nasabah Retail, Priority dan Private Banking, walaupun jasa Portfolio Management yang diberikan ini berbeda – beda bentuknya. Nasabah Retail menerima jasa Portfolio Management ini dalam bentuk yang paling sederhana berupa laporan portfolio bulanan yang terkonsolidasi (consolidated report), sementara nasabah Priority Banking menerima laporan serupa yang dihasilkan dari MS Excel atau Access.
Nasabah Private Banking menerima data informasi, analisis dan rekomendasi yang lebih lengkap (Comprehensive). Data – data ini terdapat dalam software Portfolio Management yang mengelola record nasabah, rencana keuangan, portofolio keuangan juga melakukan valuasi dan memberikan rekomendasi.

5. Struktur Organisasi
Struktur organisasi berbeda antara satu bank dengan bank lainnya,mencakup penjualan, operasional, konsultasi hukum, manajemen risiko, teknologi informasi, dll. Prinsip dasarnya adalah mengadopsi struktur organisasi yang paling efisien dan efektif bagi bisnis.
Anda bisa memutuskan untuk membangun Divisi Private Banking secara lengkap dalam satu atap (integrated) dengan unit – unit penunjang di dalamnya. Atau sebagai alternatif, untuk permulaan, anda bisa membentuk Divisi Private Banking yang hanya terdiri dari Relationship Manager, dimana unit lainnya digabung dengan divisi – divisi lain yang ada. Contohnya unit lain tersebut berasal dari :
o Bagian manajemen investasi yang menunjang produk dan pengelolaan pasar modal dan pasar uang
o Bagian Consumer Banking yang menunjang produk dan pengelolaan unit trust
o Bagian asuransi yang menunjang produk dan pengelolaan asuransi
o Bagian hukum dan kepatuhan yang berhubungan dengan konsultasi hukum
o Bagian Risiko Bisnis dan Operasional yang berhubungan dengan risiko seperti anti-money laundering atau Know-Your-Client (KYC)

6. Jasa Private Banking
Pada umumnya, Private Banking menawarkan jasa-jasa seperti:
a. Perencanaan Keuangan
Penasehat keuangan berkewajiban mereview kekayaan nasabah dan menyusun rencana keuangan sesuai dengan tujuan dan profil risiko nasabah.
Penasehat keuangan ini secara rutin mereview plan nasabah dan membandingkannya dengan kondisi aktual untuk memastikan bahwa investasi tersebut telah sesuai dengan plan. Selanjutnya memberikan saran investasi dan merekomendasikan re-alokasi portofolio berdasarkan perubahan pasar. Apabila nasabah telah memberikan surat kuasa kepada penasehat keuangan untuk mengelola kekayaannya, maka penasehat keuangan dapat mengambil keputusan investasi tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan nasabah.
b. Investasi
Bank bisa memiliki manajer investasi sendiri untuk mengelola dana nasabah individual atau kolektif, apabila dana nasabah tersebut jumlahnya cukup signifikan. Jika produk yang ditawarkan menarik maka nasabah akan menginvestasikan dananya dalam jumlah yang besar. Sebaliknya, jika produk yang ditawarkan kurang menarik maka dana akan diarahkan untuk dikelola oleh manajer investasi eksternal. Hal ini berlaku untuk seluruh produk yang ditawarkan, baik produk pasar modal, pasar uang, asuransi, emas dan lain-lain. Jenis produk investasi sangat bervariasi dan akses kepada counterpart/partner bisnis (seperti broker dan dealer) yang sudah memiliki hubungan kerjasama selalu tersedia.
c. Perencanaan Pajak
Spesialis pajak internal maupun eksternal berkewajiban mereview keuangan nasabah dan memberikan solusi untuk meminimalkan jumlah pembayaran pajak. Solusi pajak ini berbeda dengan menghindari pembayaran pajak yang berarti melanggar hukum. Meminimalkan jumlah pembayaran pajak namun tetap mematuhi peraturan pajak yang berlaku. Contohnya di Malaysia, setiap zakat yang dibayarkan diperlakukan sebagai biaya sehingga mengurangi kewajiban pajak. Di Singapura, potongan harga bagi anak-anakdiperlakukan sebagai pengurang pajak bagi orang tua yang memiliki penghasilan tinggi.
d. Layanan Trust
Nasabah mempercayakan kekayaannya kepada trustee untuk memastikan bahwa dana akan dikelola dengan baik dan diinvestasikan bagi kepentingan ahli waris. Walaupun dana tersebut milik nasabah, namun mereka harus meminta persetujuan dari trustee sebelum memakai atau menginvestasikan dana tersebut. Dalam hal nasabah meninggal dunia, trustee akan memastikan bahwa dana tersebut akan terus dikelola untuk ahli waris yang belum cukup dewasa secara hukum. Layanan ini melindungi kekayaan nasabah hingga generasi berikutnya. Trustee adalah ahli yang telah berpengalaman di bidang hukum dan familiar dengan Undang-Undang tentang Trust. Layanan trust ini diberikan oleh ahli hukum internal dan bukan diberikan oleh firma hukum eksternal.
e. Layanan Concierge
Layanan ini tidak diungkapkan ataupun ditulis dalam literatur. Namun nasabah Private Banking mengharapkan tersedianya layanan tersebut. Karena nasabah Private Banking sangat berharga, maka sangat jarang seorang Relationship Manager menolak permintaan nasabah yang membutuhkan bantuan.

7. Contingencies
Apapun infrastrukstur dan rencana yang dipakai untuk mendirikan Divisi Private Banking, contingencies tetap harus diterapkan dalam hal terjadinya pertumbuhan bisnis yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini untuk memastikan bahwa tidak terjadi ketidaknyamanan atau sesuatu yang merugikan bagi nasabah.

“Hasrat memiliki benda-benda karya seni saat ini tidak lagi hanya didasarkan pada nilai kecintaan terhadap benda-benda seni semata, tapi kemudian belakangan ini telah berkembang menjadi salah satu media investasi yang cukup menjanjikan”

Berburu Hasil Karya Seni
Pada awalnya, kegiatan berburu benda-benda karya seni tersebut dilakukan oleh para kolektor dan pecinta seni semata-mata hanya merupakan wujud dan apresiasi mereka terhadap nilai karya sebuah benda seni. Hal tersebut kemudian berkembang, hasrat berburu benda-benda karya seni tersebut dilakukan tidak lagi hanya sekedar didasarkan pada nilai kecintaan mereka terhadap benda-benda seni tersebut tapi kemudian juga dijadikan sebagai salah satu alternative investasi yang cukup menjanjikan.
Namun demikian, dalam realita kita juga menemukan bahwa banyak karya-karya seni rupa yang tidak kita sukai tetapi selalu memperlihatkan hal-hal yang mengejutkan. Misalkan, tiba-tiba karya tersebut beberapa tahun berselang dikatakan sebagai karya yang bernilai tinggi dan berharga nahal. Demikian sebaliknya, banyak karya-karya seni rupa yang kita sukai, suatu saat kemudian malah disebut sebagai karya yang tak bernilai dan berharga. Di mana letak nilai tinggi dan kemahalan harganya ?
Kita kembali kepada hal-hal yang berkenaan dengan keberadaan, reputasi, dan prestasi seorang seniman yang terkadang mengejutkan : menggembirakan atau mengecewakan. Kenyataan demikian selalu berhubungan dengan perdiksi-prediksi, tafsiran-tafsiran, dan ‘ramalan-ramalan’. Tetapi semua itu biasanya sering dianggap dan dimaklumi sebagai hal yang berkenaan dengan faktor keberuntungan, nasib, atau garis hidup.

Bagi para ahli seni rupa, kejadian demikian sangat tipis untuk disebut sebagai kegagalan atau kesalahan praduga. Sebab, dunia seni rupa acapkali berkaitan dengan reka-pikir penyiasatan, pengkondisian, dan pembongkaran yang selalu tidak terduga. Namun sebagai media investasi yang didasari oleh hal-hal terukur, hal demikian sebetulnya tak perlu terjadi.
Karena itu, hal terburuk selalu dinyatakan melalui upaya rekayasa pasar. Pasar merujuk kepada tradisi ‘musiman’, permintaan massa, dan pengkondisian oleh para pengendali pasar. Karya-karya yang bernilai dan berharga tentunya tidak bakal mudah dipengaruhi rekayasa pasar, namun mudah sekali dibangun atau dijatuhkan olehnya. Sebab, nilai ditentukan oleh kekuatan produk, sedangkan harga dipandu oleh nilai. Senimaan yang piawai bisa menggubah dan mengikuti hukum nilai tersebut, sekaligus selalu bersabar untuk memasuki saat-saat yang menentukan. Di sini, kecakapan seorang seniman bisa seiring dengan kepiawaian seorang pengendali pasar.
Karya-karya seni rupa yang menjanjikan senantiasa tegar menghadapi pasang-surutnya gelombang pasar, yaitu karya-karya yang mengandung nilai-nilai monumental dalam sejarah perubahan kebudayaan. Karya-karya seperti itu sering disebut sebagai karya yang tak lekang oleh perubahan dan dapat melintasi batas ruang dan waktu. Orang cenderung menyebutnya sebagi karya master atau puncak-puncak kedigdayaan. Karya-karya seperti itu memang bisa sangat sedikit jumlahnya, lahir dari para maestro pada ruang dan di waktu tertentu. Tetapi, karya-karya master pun tak luput dari upaya pengkondisian.
Seperti “Lukisan Monalisa”, “Monalisa” karya Leonardo da Vinci, saat ini konon merupakan sebuah lukisan yang apabila dinilai dengan uang, telah menjadi karya seni lukis termahal di dunia. Tetapi, masih banyak lagi lukisan karya para seniman terkenal masa lalu dan masa kini yang juga berharga tinggi. Tentunya kita perlu bertanya: mengapa lukisan-lukisan tersebut berharga tinggi?; siapa yang mengkondisikannya? dan; bagaimana bisa demikian?
Jawaban yang paling mudah adalah, karena karya-karya tersebut konon telah ditelaah dan dipertanggungjawabkan, ditulis dan diberitakan, diberi nilai dan harga, oleh lembaga-lembaga kesenian yang terpercaya di dunia. Sehingga tak syak jika karya-karya tersebut serta-merta digelar di ruang-ruang pameran terhormat, dimuat mediamassa terkemuka, dicari orang di pasar lukisan tertentu, atau diperebutkan di balai lelang karya-karya seni terbesar.
Lukisan “Monalisa” tersebut, dapat dikatakan telah menjadi barang-barang berharga, bentuk-bentuk monumental, dan benda-benda komoditas.

Oleh karena itu, setiap karya seni rupa yang telah ditelaah dan dipertanggung-jawabkan, ditulis dan diberitakan, serta diberi nilai dan harga, memiliki peluang untuk menjadi media investasi yang tak lekang oleh perubahan ruang dan waktu. Bahkan, ada semacam nilai investasi di dalam karya-karya tersebut, bahwa semakin lama nilai dan harga sebuah karya seni rupa, tidak mengenal turun melainkan cenderung naik. Ambillah contoh bandingan nilai dan harga “Monalisa” satu abad silam dengan kenyataan masa kini, melesat terus berlipat ganda.
Perburuan benda-benda hasil karya seni tersebut telah berkembang menjadi suatu keyakinan bahwa ada semacam nilai investasi di dalam setiap karya-karya seni tersebut.

Strategi Pemilihan Sebuah Benda Seni sebagai Media Investasi
Pada saat berhadapan dengan karya-karya seni rupa yang akan dipilih untuk menjadi media investasi tentunya diharapkan jangan sampai terjadi kesalahan atau kekeliruan dalam proses mengambil keputusan. Pemahaman kita tentang reputasi dan prestasi seniman, proses penggubahan, makna, dan nilai tadi, sesungguhnya barulah menjadi salah satu bagian dari strategi dan kiat pemilihan karya yang layak menjadi media investasi. Setiap strategi dan kiat seyogyanya dibarengi dengan suatu kumpulan pengalaman dan pertimbangan lain yang patut disadari. Sebab, bagian awal pemahaman tadi harus disadari sebagai wilayah yang tertutup, hal-hal yang dialami seniman sebagai seorang kreator. Masih ada hal-hal yang menjadi wilayah terbuka, yaitu manakala kita sebagai pribadi (yang juga punya selera, pemahaman, dan penikmatan) akan berhadapan dengan karya pribadi seorang seniman. Di saat inilah kita memerlukan seperangkat pengalaman menyimak begitu banyak karya, pengetahuan tentang seni rupa, dan pengamatan yang tajam akan makna, nilai, dan bahasa estetika rupa.

Untuk itu, kita perlu menyusun strategi sebagai berikut :
1.  Investigate and Up-dating
Menyimak secara cermat (investigasi) terhadap catatan reputasi dan prestasi seorang seniman melalui perjalanan hidupnya sebagai seorang kreator. Upayakan untuk selalu menjaga dan mempertajam kemampuan pribadi yang tentunya berkenaan dengan selera, pengetahuan, dan kecenderungan terhadap suatu gaya seni.

2.  Observe and Be an Auction Bore
Hadiri setiap pameran, pelelangan dan penjualan barang antic, walaupun kehadiran tersebut tidak selalu bertujuan untuk membeli.
Amati setiap perangai karya seni sebagai bahan untuk menjadi pengalaman dan jangan malu untuk bertanya kepada setiap speasialis dan kolektor-kolektor terkenal.

3.  Study and Become a Specialist Collector
Pelajari referensi seni rupa dari teks-teks yang dapat diperoleh dari mana pun; termasuk kepustakaan, konsultasi, dan pernyataan para ahli.
Pilihlah barang-barang yang memang anda mengerti dengan baik, belajarlah menjadi spesialis (focus pada barang-barang tertentu) dan dapatkan katalog-katalog mengenai barang-barang antic serta datangi pameran-pameran dan eksebisi-eksebisi barang antic.

4.  Spend More, Buy Less
Pembelian dan investasi dilakukan lebih berdasarkan kualitas dan bukan kuantitas.
Memiliki barang dalam jumlah sedikit namun dengan nilai harga tinggi adalah lebih baik dibanding memiliki barang dalam jumlah banyak tetapi dengan nilai harga rendah.

5.  Don’t Buy Damaged Goods
Beli dan miliki barang-barang dalam kondisi baik walaupun hal tersebut cukup sulit untuk dilakukan.

6.  Open mind and Cherish Your Investment
Pilihlah benda-benda karya seni yang anda sukai dan dapat anda nikmati, serta selalu upayakan memberikan kesediaan diri untuk menerima segala perkembangan yang dilakukan oleh para seniman dan karya-karyanya.

Strategi tersebut sesungguhnya merupakan kiat-kiat dasar untuk menjatuhkan keputusan memilih. Lebih dari itu, secara pribadi sebagai penikmat kita mulai harus mengenali kekuatan setiap unsur bahasa estetika rupa (titik, garis, bidang, ruang, warna, dan tekstur). Unsur-unsur bahasa estetika rupa lah yang kerap melahirkan citra keindahan dari hal-hal yang berhubungan dengan apa yang digambarkannya.

Unsur-unsur bahasa estetika rupa tersebut pada dasarnya sebagai pembentuk objek, tema, dan konteks sebuah karya. Objek berupa benda-benda, alam, mahluk, dan peristiwa. Tema adalah hal-hal yang dibangun untuk mencapai makna ungkapan, seperti : alam benda, pemandangan, kemanusiaan, penggambaran kembali (representasi) peristiwa, atau gabungan dari unsur-unsur makna tersebut. Konteks sebuah karya bisa saja berhubungan dengan sikap pribadi seorang seniman dan latar belakang pengaruh-pengaruhnya, daya kritis, serta tanggap lingkungan dan sosial.

“Dalam melakukan transaksi valuta asing (forex trading), keterampilan untuk mengestimasi arah dan perubahan harga pada pasar valuta asing adalah merupakan cara yang cukup baik dalam memanfaatkan peluang akibat perubahan harga valuta asing tersebut”

Analisa teknikal adalah merupakan salah satu cara yang cukup berguna dalam membantu investor untuk mengestimasi arah dan perubahan harga pada pasar valuta asing. Analisis teknikal merupakan analisis terhadap pola pergerakkan harga di masa lampau dengan tujuan untuk meramalkan pergerakkan harga di masa yang akan datang.
Analisa teknikal dapat didefinisikan sebagai bidang yang mempelajari dinamika pasar, khususnya melalui pemakaian bagan/chart untuk tujuan meramalkan trend pergerakan harga. Dinamika pasar disini mencakup antara lain harga komoditi dan volume transaksi, tetapi pada umumnya dinamika pasar sering disinonimkan oleh dinamika harga karena sebagian besar kegiatan analisa teknis adalah memantau pergerakan harga di pasar.

Kegunaan Analisis Teknikal
Analisa teknikal dapat digunakan sebagai alat bantu untuk menggambarkan pergerakan harga dipasar valuta asing baik yang bersifat jangka pendek, seperti day trading maupun yang berjangka waktu lebih panjang ke dalam suatu grafik atau bagan, dengan tujuan untuk mengidentifikasi trend melalui berbagai perangkat.

Ada tiga kekuatan utama dalam analisis teknikal yaitu:
1.  Kekuatan utama analisis teknikal terletak pada sifatnya yang fleksibel terhadap setiap perubahan yang terjadi. Fleksibel analisis teknikal ini terletak pada metode analisis serta indikator-indikator yang digunakan sebagai alat bantu dalam melakukan suatu prediksi nilai tukar mata uang. Seorang analis teknikal yang mempunyai spesialisasi dalam menganalisis pergerakan nilai tukar suatu mata uang tertentu dapat dengan mudah mengaplikasikan metode analisis teknikal yang telah dimilikinya untuk melakukan analisis terhadap jenis mata uang lain. Metode teknikal dapat digunakan untuk meramalkan pergerakan berbagai jenis mata uang. Jadi, dalam penggunaannya tidak terdapat batasan.

2.  Keunggulan analisis teknikal juga terletak pada fleksibelitas penerapannya di berbagai jenis pasar yang hendak dimasuki. Seorang investor yang telah terbiasa menggunakan analisis teknikal dalam transaksi perdagangan di pasar Spot dapat dengan mudah melakukan transisi apabila ia ingin menggunakan analisis tersebut dalam transaksi di pasar Futures. Ini bisa terjadi karena metode analisis teknikal yang diterapkan adalah sama, baik untuk pasar Spot maupun Futures, sehingga dapat diaplikasikan ke berbagai jenis pasar yang hendak dimasuki. Jadi, sehubungan dengan jenis pasar yang hendak dimasuki, tidak terdapat batasan bagi seorang investor untuk menerapkan analisis teknikal.

3.  Keunggulan analisis teknikal lainnya yaitu dapat menggambarkan hasil analisa terhadap berbagai faktor nonkuantitatif dan faktor psikologi pasar (perilaku investor, sperti sifat tamak, takut, dan lain-lain) yang tidak dapat dianalisis dengan menggunakan indikator-indikator dalam analisis fundamental.